Perilaku Teman Sebaya Meningkatkan Kejadian Bullying pada Remaja

By : Herlyssa, M.Keb., Nina Primasari., Qhistya Rizka Alhaq

Bullying pada remaja menjadi salah satu hal yang sangat mengkhawatirkan, karena hal ini akan berdampak buruk seperti kecemasan, merasa kesepian, rendah diri, tingkat kompetisi yang rendah, depresi, minggat dari rumah, mengunakan alkohol dan obat-obatan, keluhan kesehatan dan akademik menurun. Remaja yang menjadi korban bullying dengan kesehatan
mental tinggi sebesar 46,8% dan kategori rendah sebesar 45,3%. Tinggi nya persentase remaja pada kategori tinggi pada kesehatan mental karena pada usia ≥ 16 tahun remaja telah melewati masa pubertas, sehingga remaja mulai dapat menyelesaikan diri dengan baik dalam proses perkembangannya dan tuntutan sekolah.

Di bidang pendidikan, kasus anak pelaku kekerasan dan bullying yang paling banyak terjadi, dari 161 kasus, 41 kasus diantaranya adalah kasus anak pelaku kekerasan dan bullying. Jumlah kasus pendidikan per 30 mei 2018, berjumlah 161 kasus, dengan rincian; anak korban tawuran sebanyak 31 kasus atau 19,3%, anak korban kekerasan dan bullying sebanyak 36 kasus atau 22,4%, anak pelaku kekerasan dan bullying sebanyak 41 kasus atau 25,5%, dan anak korban kebijakan (pungli, dikeluarkan dari sekolah, tidak boleh ikut ujian, dan putus sekolah) sebanyak 30 kasus atau 18,7%. Survei Kesehatan Berbasis Sekolah Global (The Global School-Based Health Survey) (2015) memberikan data penting tentang kekerasan fisik dan perisakan (bullying) di kalangan siswa sekolah menengah atas, yang menunjukkan pentingnya berinvestasi untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman serta program anti-perisakan di sekolah-sekolah. Secara total, sebanyak 32% anak berusia 13–17 tahun pernah mengalami serangan fisik dalam 12 bulan terakhir, sementara 20% pernah mengalami perisakan (bullying). 1 % anak mengalami serangan fisik setidaknya 10 kali dalam 12 bulan terakhir, dan 1% anak mengalami pelecehan setiap harinya dalam 1 bulan terakhir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 83 responden di SMA Negeri 7 Pekanbaru, mayoritas remaja dengan dukungan sosial negatif memiliki perilaku bullying tinggi yaitu 75% dibandingkan remaja dengan dukungan sosial teman sebaya positif yaitu 17,1 %. Jenis perilaku bullying yang terjadi pada responden di SMA Negeri 7 Pekabaru sebagian besar bersifat fisik yaitu 55,4 %. Perilaku bullying fisik adalah perilaku penindasan melibatkan kontak fisik seperti memukul, menjitak, menendang, melempar dan meludahi. Semakin baik pola asuh orang tua maka semakin rendah tingkat perilaku bullying siswa di SMA N 1 Bolangitan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian bullying pada remaja di propinsi DKI Jakarta tahun 2020.

Hasil penelitian menunjukan bahwa dari 54 responden di Provinsi DKI Jakarta, remaja yang mendapatkan perilaku bullying sebesar 35,2%. Sebagian besar responden berumur 17-19 tahun (55,6%), berjenis kelamin perempuan (81,5%), sedang menempuh pendidikan SMA/SMK/MA/Sederajat (61,1%), sebagian besar tinggal di luar Jakarta Barat (63%) dan tinggal bersama orang tua (92,6%). Sebagian besar remaja memiliki pengetahuan baik (72,2%), mendapatkan perilaku negatif dari
teman sebaya (53.7%), perilaku negatif guru (55,6%), dan mendapat pola asuh orang tua yang positif (53,7%). Gambaran perilaku bullying di DKI Jakarta pada remaja sedikit lebih rendah bila dibandingkan dengan penelitian Gitry (2017) yang mendapatkan 49% remaja mendapatkan perilaku bullying pada remaja SMA di kota Yogyakarta. Jenis perilaku bullying yang ditemukan pada penelitian ini adalah bullying verbal sebesar 68%. Hasil penelitian ini juga berbeda dengan Gitry (2017) yang menyebutkan bahwa jenis bullying verbal sebesar 47%.

Jenis bullying verbal ini berupa julukan nama, celaan, fitnah, kritik kejam, penghinaan yang bersifat pribadi atau rasial, pertanyaan-pertanyaan bernuansa ajakan seksual atau pelecehan seksual, teror, surat-surat yang mengintimidasi,
tuduhan tidak benar, gosip dan lain-lain (Dewi,2018). Pengalaman cyber bullying memiliki angka kejadian paling sedikit 3% (Dewi, 2018). Coloraso dalam Ela (2017) menyebutkan bahwa Cyber bullying Ini adalah bentuk bullying yang terbaru karena semakin berkembangnya teknologi, internet dan media sosial. Pada intinya adalah korban terus menerus mendapatkan pesan negative dari pelaku bullying baik dari sms, pesan di internet dan media sosial lainnya. Bentuknya dapat berupa: mengirim pesan yang menyakitkan atau menggunakan gambar, meninggalkan pesan voicemail yang kejam, menelepon terus menerus tanpa henti namun tidak mengatakan apa-apa (silent calls), membuat website yang memalukan bagi si korban, si korban dihindarkan atau dijauhi dari chat room dan lainnya. “Happy slapping” – yaitu video yang berisi dimana si korban dipermalukan atau di- bully lalu disebarluaskan.

Sebagian besar remaja Di DKI Jakarta masih mengalami kasus bullying dengan jenis bullying verbal. Ada hubungan yang signifikans antara perilaku teman sebaya dengan kejadian bullying pada remaja. Remaja yang mendapatkan perilaku negative dari teman sebaya memiliki peluang lebih besar untuk mengalami perilaku bulliying. Bidan sebagai sahabat perempuan, diharapkan dapat menjadi teman baik, seseorang yang hangat, dekat, dan menyenangkan bagi para remaja, dan juga menciptakan hubungan yang baik pada remaja.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Other Recent Articles

Scroll to Top
Whatsapp
Butuh Batuan?
Halo WRHC,
Ada yang dapat kami bantu?